Apa Yang Lo Lakukan Kalo Lo Jadi Gue?

Sering gak sih ditanyain kalimat di atas?

Kemarin di kantor, di tengah keseriusan gue mandangin laptop, tiba-tiba seorang teman bertanya, “Ger, hal apa sih yang paling enggak bisa lo tolerir dari pasangan lo?”

“Banyak. Di luar bau badan atau bau mulut, ya. Makanya gue belom punya pasangan karena kayaknya banyak hal yang gue ga bisa tolerir.”

Temen gue ketawa. Lalu lanjut bertanya, “Oke, misalnya nih lo harus memilih antara pasangan lo selingkuh dan pasangan lo abusive. Mana yang kira-kira bisa lo tolerir?”

“Tapi kan cowok jarang punya pacar cewek yang abusive,” gue seperti biasa terlalu serius menanggapi pertanyaan orang lain.

“Ya misalnya aja nih, pacar lo mukul lo sampai lebam.”

Gue jawab dengan, “Mendingan pasangan yang selingkuh daripada abusive, sih.”

Gue kemudian panjang menjelaskan. “Menurut gue, kalo lo udah sampe melukai diri lo yang jelas-jelas lukanya orang lain bisa liat, terus lo lanjutin itu bodoh, sih. Itu udah ngebahayain diri sendiri. Kalo diselingkuhin, ya sakit hati sih, tapi gak ngebahayain diri sendiri. Masih wajar dikasih kesempatan at least sekali lagi untuk buktiin dia gak akan ulangin.”

Temen gue terlihat mencerna, kemudian tampak penasaran dan tanya lagi. Seperti proses interview pekerjaan antara user dan calon karyawan. “Kalo misalnya temen lo yang mau nikah lagi 3 bulan, terus ketahuan dipukulin gitu sama calonnya, lo bakal ngapain?”

“Ya gue suruh udahan, sih. Atau kalo gak bisa, ya seenggaknya menunda pernikahannya. Tapi, kalo bisa sih gak usah dilanjutin deh, karena itu pasti cuma akan bertambah buruk.”

Setahu gue pernikahan gak akan mengubah kepribadian seseorang. Gue juga selama ini belajar bahwa kemungkinan seseorang berubah itu kecil persentasenya. Pilihannya hanya diterima, atau dijauhi.

“Jadi kalo lo jadi gue, apa yang lo lakuin?” Teman gue lanjut lagi.

“Ya bakal gue omongin sih, gue kasih tau sebaiknya gimana. Yang pasti gue gak mungkin diem-diem aja, apalagi kalo itu temen deket gue.”

“Ya kan, jadi gue harus jujur, kan ya…”

Gue mengangguk dan kembali kerja. Tapi kemudian, gue seperti spontan mengeluarkan kalimat ini… 

“Tapi sebenernya ya, there’s nothing you can do as a friend, sih. Apalagi kalo udah soal cinta.”

“Ya kaaan…” Teman gue setuju.

“Ya tapi seenggaknya, lo jujur dan ngasih tau tetep jauh lebih baik daripada elo diem aja. Tapi ngasih taunya secukupnya aja gak usah ngoyo.”

Karena gue belajar dari pengalaman.
Beberapa teman menjauh
hanya karena gue terlalu keras memberi tahu.

Gue lupa, kadang mendoakan dari jauh juga ampuh.
Bukannya gak peduli,
tapi lebih soal pengendalian diri..
dan percaya sama Ilahi. 

Kadang kita terlalu peduli, sampai kita pikir,
kalau bukan kita yang mengendalikan
semuanya gak akan baik-baik saja.

Kadang kita terlalu dekat, sampai kita pikir..
Cara terbaik untuk seseorang belajar
adalah dengan mengikuti nasihat kita.

Padahal, orang bisa belajar dari banyak hal..
termasuk kegagalannya sendiri.

Jadi, apa yang harus gue lakukan?
Berpendapat jika diminta
Berbicara jujur jika sudah mendesak
Beri ruang dan hargai keputusan mereka.

Terutama soal cinta.
Tidak ada benar, tidak ada salah, tidak ada mutlak.
Semua punya kacamata sendiri.

Write to you later,

HG. (@gersonhenry)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s