Kalo Mau Enak, Harus Sampe Tuntas!

Dua minggu terakhir ini, pengeluaran gue tiba-tiba bertambah,  sementara waktu gue berkurang. Biasanya, aktifitas pagi gue cuma bangun, mandi, ganti baju, berangkat ke kantor. Pulang pun tinggal mandi, lalu tidur.

Tapi kemudian, sekarang gue harus mengoleskan obat ke kulit gue, sebelum dan sesudah mandi, yang harus didiamkan selama 15 menit. Jadi selama 15 menit gue harus nunggu sambil berdiri, karena obatnya dibalurkan hampir di seluruh badan, yang bikin gue gak mungkin untuk duduk, apalagi tiduran.

Jadi, selama hampir setahun ini, badan gue tiba-tiba dipenuhi bintik merah yang muncul secara acak. Awalnya satu titik, lalu jadi lingkaran besar. Awalnya muncul di lutut. Lalu di lengan, lalu tiba-tiba di bahu, di pinggang, lipatan paha, dan sekitarnya. Gue yang biasanya cukup ignorant soal masalah kesehatan akhirnya mulu concerned. Karena, sepertinya bintik merah ini gak akan hilang, walaupun gue sudah coba sendiri pakai pelembab kulit, pakai sabun anti-septik, dan lain sebagainya.

Bertanya kepada sang ahli, dokter kulit tentunya, akhirnya jadi satu-satunya pilihan gue.

Singkat cerita, ternyata bintik merah itu adalah jamur. Dari mana asal jamurnya? Di pertengahan 2016, jari manis kiri saya sempat kejepit laci, sakit dan nyerinya bukan main. Di bagian bawah kuku ada titik hitam, yang berarti ada luka atau darah di dalam. Namun, karena sakitnya pun langsung hilang, dan tidak ada efek apa-apa lagi selain itu, gue gak ambil pusing lagi.

Tapi, lama-lama si titik hitam itu bikin kuku gue jadi seperti bersisik dan sangat kering. Dengan nyantainya gue cuma mikir, “ah paling juga nanti kalau bagian yang rusak itu naik, tinggal dipotong dan hilang permasalahan gue.”

Memang benar, area yang rusak itu lama-lama naik ke atas, dan bisa digunting waktu potong kuku. Tapi, area yang rusak sudah terlanjur menyebar. Cuma, karena enggak sakit, ya gue diamkan saja. Gue ingat, ada dua orang teman yang pernah lihat dan bilang, “Lo obatin deh, ini tuh jamuran kuku lo.”

Gue cuma mengangguk tapi sambil mikir, “apa sih yang bisa dilakukan jamur di kuku ini?” Toh, enggak sakit apa-apa, kok.

Ternyata menurut dokter, jamur yang ada di kuku itu bisa pindah ke area-area yang sekarang dipenuhi bintik merah, karena gue menggaruk area-area tersebut. Si jamur leluasa main-main ke bagian tubuh yang lain dan mulai bermultiplikasi. Seperti bisnis yang sukses di tahun pertama, tahun kedua, kemudian mulai buka cabang di tempat lain.

Syukurnya, sekarang setelah dua minggu konsultasi dengan dokter, minum obat, pakai salep (yang menurut gue cukup menyita waktu), plus disuruh kutekan dua hari sekali (serius, gue mesti pake obat dalam bentuk kuteks hahaha), si bintik merah itu mulai hilang.

Dari kejadian ini gue belajar, atau lebih tepatnya diingatkan, untuk gak menyepelekan luka sekecil apa pun di tubuh gue. Dan prinsip ini juga relevan untuk jiwa dan roh kita, kalau ada kekecewaan, luka, sakit hati, sekecil apa pun itu, sebaiknya jangan disepelekan.

Segera obati. Sampai tuntas.

Kadang kita pikir, kita baik-baik saja, karena sepertinya semua terlihat baik-baik saja.
Kadang kita pikir, kita enggak butuh pertolongan.
Kadang kita pikir, kita sudah maksimal melindungi diri kita dari rasa sakit eksternal, padahal sebenarnya yang lebih berbahaya adalah luka tidak tuntas, yang datangnya dari dalam.

Sebelum tahun ini berakhir, ada baiknya kita lihat lagi, area mana yang mungkin perlu kita obati sampai tuntas. Jangan sampai, langkah kita, rencana kita, hubungan kita, terhambat di tahun depan, hanya karena ada sesuatu yang gak tuntas, yang punya potensi menyebar dan meluas, seperti jamur.

Processed with VSCO with a6 preset

Write to you later,

HG. (@gersonhenry)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s