The Fruit of Quarantine

It’s been ages since the last time I posted anything new here. Bahkan, saking lamanya gue nyaris kelock-out dari akun ini.

Postingan terakhir, 6 Februari 2019. Sekarang, 2 May 2020.
1 tahun 3 bulan yang lalu.

Alasan utama gue berhenti dulu kenapa, ya. Bosan sepertinya. Tapi juga mengatasnamakan sibuk. Seperti banyak kaum urban lainnya, 24 jam seperti tidak cukup. Padahal bukan tidak cukup, memang sudah tidak diprioritaskan lagi. Kalender penuh jadi alasan gampang untuk berhenti.

Atau mungkin, separuh alasannya yang enggak pernah gue benar-benar acknowledge adalah capek berpura-pura? I started blogging in 2008. Stopped at 2010 karena mulai masuk season bikin skripsi sambil kerja. Lalu mulai enak cari duit dan terlena merasa tidak perlu lagi. Eh, emang namanya suka, rasa rindu nulis pun balik lagi. Bareng temen, mulai blog baru tahun 2012. Cuma bertahan sebentar, enggak lama berhenti, lagi-lagi waktu jadi kambinghitamnya.

Eh tapi 2015, mulai lagi dalam bentuk project. Kali ini nulisnya ada misi. Mau, menginspirasi anak muda. Terus lanjut sampai akhirnya beli domain dengan nama sendiri. Sampai tahun lalu benar-benar berhenti.

Misi menginspirasi itu berat. Niatnya positif, memberikan influence. Sebuah kata yang diagung-agungkan di generasi ini. Tapi, lama-lama jadi boomerang. Kalau feedbacknya enggak rame, langsung ngerasa kurang “influential”. Kalau engagement nya enggak tinggi, langsung ngerasa gak termotivasi. Ngedit foto niat banget, traveling juga capek karena malah ngejar bahan tulisan. Pas udah kelar liburan lebih capek lagi karena ngerasa punya hutang tulisan yang belum selesai. Belom lagi ratusan foto yang belum dipilih dan diedit. Influencing is not for everyone. LOL.

Bohong sama diri sendiri, tiap kali ada junior writer yang konsultasi dan nanya-nanya, gue selalu bilang nulis aja dulu enggak usah mikir yang baca bakal komen apa. Padahal, gue sendiri terjebak dalam mikirin orang lain bakal suka enggak ya sama apa yang gue tulis.

Capek, akhirnya. Dari yang rajin nulis, gue jadi tumpul pada saat nulis. Gue akhirnya cukup menjadikan tulisan sebagai ajang untuk ngumpulin duit aja. Ya, kalo gak dibayar enggak akan nulis kayak gini.

Udahlah akhirnya, gue mulai fokus aja kerjain apa yang ada di tangan dan benar-benar bikin bahagia. Mulai pay attention ke orang-orang yang ada di sekeliling gue. Apa yang bisa dibantu. Ngasih pengaruh bukan diukur dari jumlahnya, tapi dari besar dampaknya. Well, I don’t think I have achieved both, but who cares.

Anyway, gue mulai enjoy living my life bener-bener tahun lalu sih. Doing what I like and getting paid in return, my friendship and relationship with parents also improved. I can finally enjoy traveling. Karena enggak ada lagi beban ngumpulin konten (hahaha), kalau pun ada konten banyak setelah liburan, enggak ada lagi deadline untuk nyelesain. I do anything I want when I want to do it. So freakin liberating.

Ngepost Instagram enggak setiap hari pun enggak apa-apa. Konsekuensinya? Engagement gue sih terjun bebas. Angka likes enggak sebanyak dulu, followers juga turun terus. Mungkin beberapa kecewa, ini orang enggak even ada update apa-apa lagi di blognya. Tapi, gue enggak pusing. Happy malah.

Dan sekarang? Thank God to COVID-19 and this whole quarantine period, gue udah mulai kehabisan akal di rumah ngapain ya. Setiap kali kerjaan selesai, kalo gak main game ya paling Netflix. Tapi, apa lagi? Sampai akhirnya gue mulai mikir, nulis lagi kali ya. Apa kabar ya itu blog? Ibarat rumah udah lama banget enggak ditinggalin ini mungkin udah banyak jamur dan bau lembab di mana-mana, belum lagi debu setebal tujuh seri buku Harry Potter ditumpuk jadi satu dan jaring laba-laba yang mungkin seorang Spiderman pun bisa tiduran di situ.

So here I am.

Apakah akan lanjut nulis blog lagi abis ini? Mungkin. Belum tau. But I don’t care I simply wanna do things that make me happy. And, you should too. Selama kebahagiaan lo enggak ngorbanin orang lain, ya.

Iseng 01
Words from Hillsong United’s Oceans. Photo by Pok Rie, Malaysia.

Buat yang kehilangan pekerjaan, atau untuk sementara enggak digaji, atau mungkin tetep gajian tapi enggak full. Bertahan, ya. Buat yang punya bisnis tapi omset turun drastis atau enggak ada omset sama sekali, bertahan juga ya. I lost half of my clients gara-gara COVID-19 ini. Sedih dan pusing, tapi ya udah jalani aja sambil coba cari cara lain untuk tetap bisa generate income.

Di masa-masa ini bersyukur lah kalau kita masih bernafas dengan sehat, masih punya keluarga dan teman-teman yang sayang sama kita, masih punya rumah yang melindungi kita dari panas dan hujan, dan masih bisa makan tiga kali sehari. Sesederhana itu.

Write to you later,
HG.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s